Jangan Mudah Menghakimi Saudaramu

๐Ÿ‘‰ Dari Muslim, dari Jundub bin Abdillah radhiyallฤhu 'anhu secara marfu',

ุฃู†ูŽู‘ ุฑูŽุฌูู„ู‹ุง ู‚ุงู„ูŽ: ูˆุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ุง ูŠูŽุบู’ููุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ูููู„ุงู†ูุŒ ูˆุฅู†ูŽู‘ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ูŽ ุชูŽุนุงู„ูŽู‰ ู‚ุงู„ูŽ: ู…ูŽู† ุฐุง ุงู„ุฐูŠ ูŠูŽุชูŽุฃูŽู„ูŽู‘ู‰ ุนูŽู„ูŽูŠูŽู‘ ุฃู†ู’ ู„ุง ุฃุบู’ููุฑูŽ ู„ูููู„ุงู†ูุŒ ูุฅู†ูู‘ูŠ ู‚ุฏู’ ุบูŽููŽุฑู’ุชู ู„ูููู„ุงู†ูุŒ ูˆุฃูŽุญู’ุจูŽุทู’ุชู ุนูŽู…ูŽู„ูŽูƒูŽ

Seorang lelaki berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si Fulan." Maka Allah Ta'ala berfirman: "Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si Fulan?! Sesungguhnya Aku telah mengampuninya, dan Aku telah menggugurkan amalmu." (Sahih. HR Muslim no. 2621)

Penjelasan Hadis:
Seorang mukmin harus berhati-hati dalam menilai seseorang di dunia bahwa ia termasuk ahli neraka atau surga. Sebaliknya, ia harus menaati perintah Allah dan agamanya, serta tunduk dengan penuh takut kepada Allah Jalla wa 'Alaa.

Adapun jika seseorang memutuskan atas nama Allah bahwa Allah akan melakukan ini atau itu, maka ini disebut sebagai "bersumpah atas nama Allah". Oleh karena itu, ia berkata: "Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si Fulan."

Pada hadis As-Sunan:

ูƒุงู†ูŽ ุฑุฌูู„ุงู†ู ููŠ ุจูŽู†ูŠ ุฅุณุฑุงุฆูŠู„ูŽ ู…ูุชูˆุงุฎููŠูŠู†ูุŒ ููŽูƒุงู†ูŽ ุฃุญุฏูู‡ูุง ูŠุฐู†ูุจู ูˆุงู„ุขุฎุฑู ู…ุฌุชูŽู‡ูุฏูŒ ููŠ ุงู„ุนุจุงุฏุฉู ููŽูƒุงู†ูŽ ู„ุง ูŠุฒุงู„ู ุงู„ู…ุฌุชูŽู‡ูุฏู ูŠุฑู‰ ุงู„ุขุฎุฑูŽ ุนู„ูŽู‰ ุงู„ุฐูŽู‘ู†ุจู ููŠู‚ูˆู„ู ุฃู‚ุตูุฑู’

"Pada masa Bani Israil, terdapat dua orang laki-laki yang saling bersaudara. Salah satu dari mereka terus berbuat dosa, sementara yang lainnya rajin beribadah. Yang rajin beribadah itu tidak henti-hentinya melihat saudaranya dalam keadaan berdosa, sehingga ia berkata kepadanya: 'Berhentilah!'

ููˆุฌุฏูŽู‡ู ูŠูˆู…ู‹ุง ุนู„ูŽู‰ ุฐู†ุจูุŒ ูู‚ุงู„ูŽ ู„ู‡ู : ุฃู‚ุตูุฑ
Suatu hari, ia mendapati saudaranya sedang melakukan dosa, lalu ia berkata kepadanya: 'Berhentilah!'

ูู‚ุงู„ูŽ ุฎู„ูู‘ู†ูŠ ูˆุฑุจูู‘ูŠ ุฃุจูุนูุซุชูŽ ุนู„ูŠูŽู‘ ุฑู‚ูŠุจู‹ุง
Saudaranya menjawab: 'Biarkan aku bersama Tuhanku, apakah engkau diutus sebagai pengawas atasku?'

ูู‚ุงู„ูŽ ูˆุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ุง ูŠูŽุบูุฑู ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ู„ูŽูƒูŽ ุฃูˆ ู„ุง ูŠุฏุฎู„ููƒูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ุงู„ุฌู†ูŽู‘ุฉูŽ
Orang yang rajin beribadah itu lalu berkata: 'Demi Allah, Allah tidak akan mengampunimu, atau Dia tidak akan memasukkanmu ke dalam surga.'

ูู‚ุจุถูŽ ุฃุฑูˆุงุญูŽู‡ูู…ุง ูุงุฌุชูŽู…ุนุง ุนู†ุฏูŽ ุฑุจูู‘ ุงู„ุนุงู„ู…ูŠู†ูŽ
Kemudian Allah mencabut nyawa keduanya, dan mereka berkumpul di hadapan Tuhan semesta alam.

ูู‚ุงู„ูŽ ู„ูู‡ูŽุฐุง ุงู„ู…ุฌุชูŽู‡ูุฏู ุฃูŽูƒูู†ุชูŽ ุจูŠ ุนุงู„ู…ู‹ุง ุฃูˆ ูƒู†ุชูŽ ุนู„ูŽู‰ ู…ุง ููŠ ูŠูŽุฏูŠ ู‚ุงุฏุฑู‹ุง
Allah berkata kepada orang yang rajin beribadah: 'Apakah kamu mengetahui apa yang ada pada-Ku? Atau apakah kamu mampu terhadap apa yang ada di tangan-Ku?'

ูˆู‚ุงู„ูŽ ู„ู„ู…ูุฐู†ูุจู ุงุฐู‡ูŽุจ ูุงุฏุฎูู„ู ุงู„ุฌู†ูŽู‘ุฉูŽ ุจุฑูŽุญู…ุชูŠ ูˆู‚ุงู„ูŽ ู„ู„ุขุฎุฑู ุงุฐู‡ูŽุจ ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ูŽู‘ุงุฑู
Lalu Allah berkata kepada orang yang berdosa: 'Pergilah, masuklah ke surga dengan rahmat-Ku.' Dan Allah berkata kepada orang yang rajin beribadah: 'Pergilah ke neraka.'

ู‚ุงู„ูŽ ุฃุจูˆ ู‡ูุฑูŽูŠู’ุฑุฉูŽ ูˆุงู„ูŽู‘ุฐูŠ ู†ูุณูŠ ุจูŠุฏูู‡ู ู„ุชูŽูƒูŽู„ูŽู‘ู…ูŽ ุจููƒูŽู„ู…ุฉู ุฃูˆุจูŽู‚ูŽุช ุฏูู†ู’ูŠุงู‡ู ูˆุขุฎุฑุชูŽู‡ู
Abu Hurairah berkata: 'Demi yang jiwaku berada di tangan-Nya, ia telah mengucapkan satu kalimat yang membinasakan dunia dan akhiratnya.'" (Sahih. HR Abu Dawud no. 4901. Disahihkan oleh Al-Albani)

Hal ini mengajarkan kita tentang pentingnya menjaga lisan, karena seseorang dapat mengucapkan satu kata yang menjadi penyebab kehancurannya. Barang siapa memutuskan sesuatu atas nama Allah secara sembrono, maka dia telah melakukan tindakan bodoh yang besar, sebab Allah bisa saja melakukan hal yang berlawanan dengan keputusan tersebut. Hal ini merupakan peringatan agar seorang mukmin tidak berbicara dengan perkara yang menjadi hak Allah, baik di dunia maupun di akhirat.

Dan hal ini menunjukkan bahwa memutuskan si Fulan sebagai ahli neraka atau si Fulan tidak akan diampuni Allah adalah tindakan gegabah. Karena ini adalah urusan Allah Tabaraka wa Ta'ala segala sesuatu dan Dialah yang memutuskan hukum.

Adapun jika perkara-perkara syar'i telah tetap, maka wajib bagi kita untuk mengatakan hal tersebut. Akan tetapi, masalahnya adalah kebanyakan orang tidak memahami perkara-perkara syar'i, dan mereka mengambil perkara-perkara berdasarkan pemahaman dangkal mereka, lalu mereka menerapkannya pada orang lain. Ini adalah salah satu musibah yang menimpa manusia hari ini.

Dan yang paling besar dari itu adalah banyak dari pendengar mendengarkan sesuatu, kemudian membangun apa yang ia dengarkan berdasarkan pemahamannya, lalu ia berkata: Si Fulan mengatakan ini, dan si Fulan memutuskan seperti itu. Semua ini adalah perkara yang wajib bagi seorang muslim untuk memastikan kebenarannya, dan tidak boleh ia memutuskan kecuali dengan sesuatu yang tidak ada keraguan di dalamnya, tidak ada kesamaran, berdasarkan apa yang ditunjukkan oleh nash-nash.

Karena itu, Ahlus Sunnah menyebutkan dalam akidah bahwa tidak boleh menetapkan seseorang masuk surga atau neraka kecuali apa yang telah diberitahukan oleh Allah Jalla wa 'Alaa. Kita tidak menetapkan seseorang di surga atau neraka, karena urusan itu kembali kepada Allah Ta'ala. Dialah yang memutuskan di antara makhluk-Nya.

Bisa jadi seseorang melakukan amal-amal yang tampaknya baik, tetapi hakikatnya hanya diketahui oleh Allah, dan bisa jadi sebaliknya. Bisa juga seseorang diakhiri hidupnya dengan hal yang buruk, atau diakhiri hidupnya dengan hal yang baik. Semua itu diserahkan kepada Rabb kita Jalla wa 'Alaa dan tidak boleh bagi kita untuk memutuskan sesuatu dengan sembrono.

Faedah Hadis:
1๏ธโƒฃ Wajibnya menjaga lisan agar selamat dari ketergelinciran di dunia dan di akhirat.
2๏ธโƒฃ Tidak boleh memvonis secara sembarangan terhadap kesalahan seorang Mukmin.
3๏ธโƒฃ Bahayanya sangkaan dan pentingnya ilmu.
4๏ธโƒฃ Apa yang telah ditetapkan secara syar'i tentang keadaan seseorang di surga ataukah di neraka maka kita menetapkannya.
5๏ธโƒฃ Akhir hidup seseorang hanya Allahlah yang mengetahuinya, maka mendoakan kebaikan kepada saudara Mukmin yang melakukan kesalahan tentu diutamakan ketimbang menghakiminya atas kesalahan yang diperbuatnya tersebut.

Wallahu 'alam

โœ๏ธ Abu 'Aashim

๐Ÿ“• Referensi:
Syarh Ushul Iman karya Syaikh Abdullah bin Muhammad Al-Ghunaiyman. Penerbit Rakaiz, Kuwait.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *